Perenungan
Jumat, 25 Februari 2011
Sejarah Hidup Imam Al Ghazali (2)
Karya-Karyanya*
*Nama karya beliau ini diambil secara ringkas dari kitab Mauqif Ibnu Taimiyah Minal Asya’irah, karya Dr. Abdurrahman bin Shaleh Ali Mahmud 2/623-625, Thabaqat Asy Syafi’iyah 6/203-204
Beliau seorang yang produktif menulis. Karya ilmiah beliau sangat banyak sekali. Di antara karyanya yang terkenal ialah:
Pertama, dalam masalah ushuluddin dan aqidah:
(1) Al Mustashfa Min Ilmil Ushul. Merupakan kitab yang sangat terkenal dalam ushul fiqih. Yang sangat populer dari buku ini ialah pengantar manthiq dan pembahasan ilmu kalamnya. Dalam kitab ini Imam Ghazali membenarkan perbuatan ahli kalam yang mencampur adukkan pembahasan ushul fikih dengan pembahasan ilmu kalam dalam pernyataannya, “Para ahli ushul dari kalangan ahli kalam banyak sekali memasukkan pembahasan kalam ke dalamnya (ushul fiqih) lantaran kalam telah menguasainya. Sehingga kecintaannya tersebut telah membuatnya mencampur adukkannya.” Tetapi kemudian beliau berkata, “Setelah kita mengetahui sikap keterlaluan mereka mencampuradukkan permasalahan ini, maka kita memandang perlu menghilangkan dari hal tersebut dalam kumpulan ini. Karena melepaskan dari sesuatu yang sudah menjadi kebiasaan sangatlah sukar……” (Dua perkataan beliau ini dinukil dari penulis Mauqif Ibnu Taimiyah Minal Asya’irah dari Al Mustashfa hal. 17 dan 18).
Lebih jauh pernyataan beliau dalam Mukaddimah manthiqnya, “Mukadimah ini bukan termasuk dari ilmu ushul. Dan juga bukan mukadimah khusus untuknya. Tetapi merupakan mukadimah semua ilmu. Maka siapa pun yang tidak memiliki hal ini, tidak dapat dipercaya pengetahuannya.” (Mauqif Ibnu Taimiyah Minal Asya’irah dari Al Mustashfa hal. 19).
Kemudian hal ini dibantah oleh Ibnu Shalah. beliau berkata, “Ini tertolak, karena setiap orang yang akalnya sehat, maka berarti dia itu manthiqi. Lihatlah berapa banyak para imam yang sama sekali tidak mengenal ilmu manthiq!” (Adz Dzahabi dalam Siyar A’lam Nubala 19/329). Demikianlah, karena para sahabat juga tidak mengenal ilmu manthiq. Padahal pengetahuan serta pemahamannya jauh lebih baik dari para ahli manthiq.
(2) Mahakun Nadzar.
(3) Mi’yarul Ilmi. Kedua kitab ini berbicara tentang mantiq dan telah dicetak.
(4) Ma’ariful Aqliyah. Kitab ini dicetak dengan tahqiq Abdulkarim Ali Utsman.
(5) Misykatul Anwar. Dicetak berulangkali dengan tahqiq Abul Ala Afifi.
(6) Al Maqshad Al Asna Fi Syarhi Asma Allah Al Husna. Telah dicetak.
(7) Mizanul Amal. Kitab ini telah diterbitkan dengan tahqiq Sulaiman Dunya.
(8) Al Madhmun Bihi Ala Ghairi Ahlihi. Oleh para ulama, kitab ini diperselisihkan keabsahan dan keontetikannya sebagai karya Al Ghazali. Yang menolak penisbatan ini, diantaranya ialah Imam Ibnu Shalah dengan pernyataannya, “Adapun kitab Al Madhmun Bihi Ala Ghairi Ahlihi, bukanlah karya beliau. Aku telah melihat transkipnya dengan khat Al Qadhi Kamaluddin Muhammad bin Abdillah Asy Syahruzuri yang menunjukkan, bahwa hal itu dipalsukan atas nama Al Ghazali. Beliau sendiri telah menolaknya dengan kitab Tahafut.” (Adz Dzahabi dalam Siyar A’lam Nubala 19/329).
Banyak pula ulama yang menetapkan keabsahannya. Di antaranya yaitu Syaikhul Islam, menyatakan, “Adapun mengenai kitab Al Madhmun Bihi Ala Ghairi Ahlihi, sebagian ulama mendustakan penetapan ini. Akan tetapi para pakar yang mengenalnya dan keadaannya, akan mengetahui bahwa semua ini merupakan perkataannya.” (Adz Dzahabi dalam Siyar A’lam Nubala 19/329). Kitab ini diterbitkan terakhir dengan tahqiq Riyadh Ali Abdillah.
(9) Al Ajwibah Al Ghazaliyah Fil Masail Ukhrawiyah.
(10) Ma’arijul Qudsi fi Madariji Ma’rifati An Nafsi.
(11) Qanun At Ta’wil.
(12) Fadhaih Al Bathiniyah dan Al Qisthas Al Mustaqim. Kedua kitab ini merupakan bantahan beliau terhadap sekte batiniyah. Keduanya telah terbit.
(13) Iljamul Awam An Ilmil Kalam. Kitab ini telah diterbitkan berulang kali dengan tahqiq Muhammad Al Mu’tashim Billah Al Baghdadi.
(14) Raudhatuth Thalibin Wa Umdatus Salikin, diterbitkan dengan tahqiq Muhammad Bahit.
(15) Ar Risalah Alladuniyah.
(16) Ihya’ Ulumuddin. Kitab yang cukup terkenal dan menjadi salah satu rujukan sebagian kaum muslimin di Indonesia. Para ulama terdahulu telah berkomentar banyak tentang kitab ini, di antaranya:
Abu Bakar Al Thurthusi berkata, “Abu Hamid telah memenuhi kitab Ihya’ dengan kedustaan terhadap Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Saya tidak tahu ada kitab di muka bumi ini yang lebih banyak kedustaan darinya, kemudian beliau campur dengan pemikiran-pemikiran filsafat dan kandungan isi Rasail Ikhwanush Shafa. Mereka adalah kaum yang memandang kenabian merupakan sesuatu yang dapat diusahakan.” (Dinukil Adz Dzahabi dalam Siyar A’lam Nubala 19/334).
Dalam risalahnya kepada Ibnu Mudzaffar, beliau pun menyatakan, “Adapun penjelasan Anda tentang Abu Hamid, maka saya telah melihatnya dan mengajaknya berbicara. Saya mendapatkan beliau seorang yang agung dari kalangan ulama. Memiliki kecerdasan akal dan pemahaman. Beliau telah menekuni ilmu sepanjang umurnya, bahkan hampir seluruh usianya. Dia dapat memahami jalannya para ulama dan masuk ke dalam kancah para pejabat tinggi. Kemudian beliau bertasawuf, menghijrahi ilmu dan ahlinya dan menekuni ilmu yang berkenaan dengan hati dan ahli ibadah serta was-was syaitan. Sehingga beliau rusak dengan pemikiran filsafat dan Al Hallaj (pemikiran wihdatul wujud). Mulai mencela ahli fikih dan ahli kalam. Sungguh dia hampir tergelincir keluar dari agama ini. Ketika menulis Al Ihya’ beliau mulai berbicara tentang ilmu ahwal dan rumus-rumus sufiyah, padahal belum mengenal betul dan tidak memiliki keahlian tentangnya. Sehingga dia berbuat kesalahan fatal dan memenuhi kitabnya dengan hadits-hadits palsu.” Imam Adz Dzahabi mengomentari perkataan ini dengan pernyataannya, “Adapun di dalam kitab Ihya’ terdapat sejumlah hadits-hadits yang batil dan terdapat kebaikan padanya, seandainya tidak ada adab dan tulisan serta zuhud secara jalannya ahli hikmah dan sufi yang menyimpang.” (Adz Dzahabi dalam Siyar A’lam Nubala 19/339-340).
Imam Subuki dalam Thabaqat Asy Syafi’iyah (Lihat 6/287-288) telah mengumpulkan hadits-hadits yang terdapat dalam kitab Al Ihya’ dan menemukan 943 hadits yang tidak diketahui sanadnya. Abul Fadhl Abdurrahim Al Iraqi mentakhrij hadits-hadits Al Ihya’ dalam kitabnya, Al Mughni An Asfari Fi Takhrij Ma Fi Al Ihya Minal Akhbar. Kitab ini dicetak bersama kitab Ihya Ulumuddin. Beliau sandarkan setiap hadits kepada sumber rujukannya dan menjelaskan derajat keabsahannya. Didapatkan banyak dari hadits-hadits tersebut yang beliau hukumi dengan lemah dan palsu atau tidak ada asalnya dari perkataan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Maka berhati-hatilah para penulis, khathib, pengajar dan para penceramah dalam mengambil hal-hal yang terdapat dalam kitab Ihya Ulumuddin.
(17) Al Munqidz Minad Dhalalah. Tulisan beliau yang banyak menjelaskan sisi biografinya.
(18) Al Wasith.
(19) Al Basith.
(20) Al Wajiz.
(21) Al Khulashah. Keempat kitab ini adalah kitab rujukan fiqih Syafi’iyah yang beliau tulis. Imam As Subki menyebutkan 57 karya beliau dalam Thabaqat Asy Syafi’iyah 6/224-227.
Aqidah dan Madzhab Beliau
Dalam masalah fikih, beliau seorang yang bermazhab Syafi’i. Nampak dari karyanya Al Wasith, Al Basith dan Al Wajiz. Bahkan kitab beliau Al Wajiz termasuk buku induk dalam mazhab Syafi’i. Mendapat perhatian khusus dari para ulama Syafi’iyah. Imam Adz Dzahabi menjelaskan mazhab fikih beliau dengan pernyataannya, “Syaikh Imam, Hujjatul Islam, A’jubatuz zaman, Zainuddin Abu Hamid Muhammad bin Muhammad bin Muhammad bin Ahmad Ath Thusi Asy Syafi’i.”
Sedangkan dalam sisi akidah, beliau sudah terkenal dan masyhur sebagai seorang yang bermazhab Asy’ariyah. Banyak membela Asy’ariyah dalam membantah Bathiniyah, para filosof serta kelompok yang menyelisihi mazhabnya. Bahkan termasuk salah satu pilar dalam mazhab tersebut. Oleh karena itu beliau menamakan kitab aqidahnya yang terkenal dengan judul Al Iqtishad Fil I’tiqad. Tetapi karya beliau dalam aqidah dan cara pengambilan dalilnya, hanyalah merupakan ringkasan dari karya tokoh ulama Asy’ariyah sebelum beliau (pendahulunya). Tidak memberikan sesuatu yang baru dalam mazhab Asy’ariyah. Beliau hanya memaparkan dalam bentuk baru dan cara yang cukup mudah. Keterkenalan Imam Ghazali sebagai tokoh Asy’ariyah juga dibarengi dengan kesufiannya. Beliau menjadi patokan marhalah yang sangat penting menyatunya Sufiyah ke dalam Asy’ariyah.
Akan tetapi tasawuf apakah yang diyakini beliau? Memang agak sulit menentukan tasawuf beliau. Karena seringnya beliau membantah sesuatu, kemudian beliau jadikan sebagai aqidahnya. Beliau mengingkari filsafat dalam kitab Tahafut, tetapi beliau sendiri menekuni filsafat dan menyetujuinya.
Ketika berbicara dengan Asy’ariyah tampaklah sebagai seorang Asy’ari tulen. Ketika berbicara tasawuf, dia menjadi sufi. Menunjukkan seringnya beliau berpindah-pindah dan tidak tetap dengan satu mazhab. Oleh karena itu Ibnu Rusyd mencelanya dengan mengatakan, “Beliau tidak berpegang teguh dengan satu mazhab saja dalam buku-bukunya. Akan tetapi beliau menjadi Asy’ari bersama Asy’ariyah, sufi bersama sufiyah dan filosof bersama filsafat.” (Lihat Mukadimah kitab Bughyatul Murtad hal. 110).
Adapun orang yang menelaah kitab dan karya beliau seperti Misykatul Anwar, Al Ma’arif Aqliyah, Mizanul Amal, Ma’arijul Quds, Raudhatuthalibin, Al Maqshad Al Asna, Jawahirul Qur’an dan Al Madmun Bihi Ala Ghairi Ahlihi, akan mengetahui bahwa tasawuf beliau berbeda dengan tasawuf orang sebelumnya. Syaikh Dr. Abdurrahman bin Shalih Ali Mahmud menjelaskan tasawuf Al Ghazali dengan menyatakan, bahwa kunci mengenal kepribadian Al Ghazali ada dua perkara:
Pertama, pendapat beliau, bahwa setiap orang memiliki tiga aqidah. Yang pertama, ditampakkan di hadapan orang awam dan yang difanatikinya. Kedua, beredar dalam ta’lim dan ceramah. Ketiga, sesuatu yang dii’tiqadi seseorang dalam dirinya. Tidak ada yang mengetahui kecuali teman yang setara pengetahuannya. Bila demikian, Al Ghazali menyembunyikan sisi khusus dan rahasia dalam aqidahnya.
Kedua, mengumpulkan pendapat dan uraian singkat beliau yang selalu mengisyaratkan kerahasian akidahnya. Kemudian membandingkannya dengan pendapat para filosof saat beliau belum cenderung kepada filsafat Isyraqi dan tasawuf, seperti Ibnu Sina dan yang lainnya. (Mauqif Ibnu Taimiyah Minal Asyariyah 2/628).
Beliau (Syeikh Dr. Abdurrahman bin Shalih Ali Mahmud) menyimpulkan hasil penelitian dan pendapat para peneliti pemikiran Al Ghazali, bahwa tasawuf Al Ghazali dilandasi filsafat Isyraqi (Madzhab Isyraqi dalam filsafat ialah mazhab yang menyatukan pemikiran dan ajaran dalam agama-agama kuno, Yunani dan Parsi. Termasuk bagian dari filsafat Yunani dan Neo-Platoisme. Lihat Al Mausu’ah Al Muyassarah Fi Al Adyan Wal Madzahibi Wal Ahzab Al Mu’ashirah, karya Dr. Mani’ bin Hamad Al Juhani 2/928-929). Sebenarnya inilah yang dikembangkan beliau akibat pengaruh karya-karya Ibnu Sina dan Ikhwanush Shafa. Demikian juga dijelaskan pentahqiq kitab Bughyatul Murtad dalam mukadimahnya. Setelah menyimpulkan bantahan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah terhadap beliau dengan mengatakan, “Bantahan Ibnu Taimiyah terhadap Al Ghazali didasarkan kejelasannya mengikuti filsafat dan terpengaruh dengan sekte Bathiniyah dalam menta’wil nash-nash, walaupun beliau membantah habis-habisan mereka, seperti dalam kitab Al Mustadzhiri. Ketika tujuan kitab ini (Bughyatul Murtad, pen) adalah untuk membantah orang yang berusaha menyatukan agama dan filsafat, maka Syaikhul Islam menjelaskan bentuk usaha tersebut pada Al Ghazali. Yang berusaha menafsirkan nash-nash dengan tafsir filsafat Isyraqi yang didasarkan atas ta’wil batin terhadap nash, sesuai dengan pokok-pokok ajaran ahli Isyraq (pengikut filsafat neo-platonisme).” (Lihat Mukadimah kitab Bughyatul Murtad hal. 111).
Tetapi perlu diketahui, bahwa pada akhir hayatnya, beliau kembali kepada ajaran Ahlusunnah Wal Jama’ah meninggalkan filsafat dan ilmu kalam, dengan menekuni Shahih Bukhari dan Muslim. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata, “Penulis Jawahirul Qur’an (Al Ghazali, pen) karena banyak meneliti perkataan para filosof dan merujuk kepada mereka, sehingga banyak mencampur pendapatnya dengan perkataan mereka. Pun beliau menolak banyak hal yang bersesuaian dengan mereka. Beliau memastikan, bahwa perkataan filosof tidak memberikan ilmu dan keyakinan. Demikian juga halnya perkataan ahli kalam. Pada akhirnya beliau menyibukkan diri meneliti Shahih Bukhari dan Muslim hingga wafatnya dalam keadaan demikian. Wallahu a’lam.”
***
Sumber: Majalah As Sunnah
Penyusun: Ust. Kholid Syamhudi, Lc.
Dipublikasikan kembali oleh www.muslim.or.id
*Nama karya beliau ini diambil secara ringkas dari kitab Mauqif Ibnu Taimiyah Minal Asya’irah, karya Dr. Abdurrahman bin Shaleh Ali Mahmud 2/623-625, Thabaqat Asy Syafi’iyah 6/203-204
Beliau seorang yang produktif menulis. Karya ilmiah beliau sangat banyak sekali. Di antara karyanya yang terkenal ialah:
Pertama, dalam masalah ushuluddin dan aqidah:
- Arba’in Fi Ushuliddin. Merupakan juz kedua dari kitab beliau Jawahirul Qur’an.
- Qawa’idul Aqa’id, yang beliau satukan dengan Ihya’ Ulumuddin pada jilid pertama.
- Al Iqtishad Fil I’tiqad.
- Tahafut Al Falasifah. Berisi bantahan beliau terhadap pendapat dan pemikiran para filosof dengan menggunakan kaidah mazhab Asy’ariyah.
- Faishal At Tafriqah Bainal Islam Wa Zanadiqah.
(1) Al Mustashfa Min Ilmil Ushul. Merupakan kitab yang sangat terkenal dalam ushul fiqih. Yang sangat populer dari buku ini ialah pengantar manthiq dan pembahasan ilmu kalamnya. Dalam kitab ini Imam Ghazali membenarkan perbuatan ahli kalam yang mencampur adukkan pembahasan ushul fikih dengan pembahasan ilmu kalam dalam pernyataannya, “Para ahli ushul dari kalangan ahli kalam banyak sekali memasukkan pembahasan kalam ke dalamnya (ushul fiqih) lantaran kalam telah menguasainya. Sehingga kecintaannya tersebut telah membuatnya mencampur adukkannya.” Tetapi kemudian beliau berkata, “Setelah kita mengetahui sikap keterlaluan mereka mencampuradukkan permasalahan ini, maka kita memandang perlu menghilangkan dari hal tersebut dalam kumpulan ini. Karena melepaskan dari sesuatu yang sudah menjadi kebiasaan sangatlah sukar……” (Dua perkataan beliau ini dinukil dari penulis Mauqif Ibnu Taimiyah Minal Asya’irah dari Al Mustashfa hal. 17 dan 18).
Lebih jauh pernyataan beliau dalam Mukaddimah manthiqnya, “Mukadimah ini bukan termasuk dari ilmu ushul. Dan juga bukan mukadimah khusus untuknya. Tetapi merupakan mukadimah semua ilmu. Maka siapa pun yang tidak memiliki hal ini, tidak dapat dipercaya pengetahuannya.” (Mauqif Ibnu Taimiyah Minal Asya’irah dari Al Mustashfa hal. 19).
Kemudian hal ini dibantah oleh Ibnu Shalah. beliau berkata, “Ini tertolak, karena setiap orang yang akalnya sehat, maka berarti dia itu manthiqi. Lihatlah berapa banyak para imam yang sama sekali tidak mengenal ilmu manthiq!” (Adz Dzahabi dalam Siyar A’lam Nubala 19/329). Demikianlah, karena para sahabat juga tidak mengenal ilmu manthiq. Padahal pengetahuan serta pemahamannya jauh lebih baik dari para ahli manthiq.
(2) Mahakun Nadzar.
(3) Mi’yarul Ilmi. Kedua kitab ini berbicara tentang mantiq dan telah dicetak.
(4) Ma’ariful Aqliyah. Kitab ini dicetak dengan tahqiq Abdulkarim Ali Utsman.
(5) Misykatul Anwar. Dicetak berulangkali dengan tahqiq Abul Ala Afifi.
(6) Al Maqshad Al Asna Fi Syarhi Asma Allah Al Husna. Telah dicetak.
(7) Mizanul Amal. Kitab ini telah diterbitkan dengan tahqiq Sulaiman Dunya.
(8) Al Madhmun Bihi Ala Ghairi Ahlihi. Oleh para ulama, kitab ini diperselisihkan keabsahan dan keontetikannya sebagai karya Al Ghazali. Yang menolak penisbatan ini, diantaranya ialah Imam Ibnu Shalah dengan pernyataannya, “Adapun kitab Al Madhmun Bihi Ala Ghairi Ahlihi, bukanlah karya beliau. Aku telah melihat transkipnya dengan khat Al Qadhi Kamaluddin Muhammad bin Abdillah Asy Syahruzuri yang menunjukkan, bahwa hal itu dipalsukan atas nama Al Ghazali. Beliau sendiri telah menolaknya dengan kitab Tahafut.” (Adz Dzahabi dalam Siyar A’lam Nubala 19/329).
Banyak pula ulama yang menetapkan keabsahannya. Di antaranya yaitu Syaikhul Islam, menyatakan, “Adapun mengenai kitab Al Madhmun Bihi Ala Ghairi Ahlihi, sebagian ulama mendustakan penetapan ini. Akan tetapi para pakar yang mengenalnya dan keadaannya, akan mengetahui bahwa semua ini merupakan perkataannya.” (Adz Dzahabi dalam Siyar A’lam Nubala 19/329). Kitab ini diterbitkan terakhir dengan tahqiq Riyadh Ali Abdillah.
(9) Al Ajwibah Al Ghazaliyah Fil Masail Ukhrawiyah.
(10) Ma’arijul Qudsi fi Madariji Ma’rifati An Nafsi.
(11) Qanun At Ta’wil.
(12) Fadhaih Al Bathiniyah dan Al Qisthas Al Mustaqim. Kedua kitab ini merupakan bantahan beliau terhadap sekte batiniyah. Keduanya telah terbit.
(13) Iljamul Awam An Ilmil Kalam. Kitab ini telah diterbitkan berulang kali dengan tahqiq Muhammad Al Mu’tashim Billah Al Baghdadi.
(14) Raudhatuth Thalibin Wa Umdatus Salikin, diterbitkan dengan tahqiq Muhammad Bahit.
(15) Ar Risalah Alladuniyah.
(16) Ihya’ Ulumuddin. Kitab yang cukup terkenal dan menjadi salah satu rujukan sebagian kaum muslimin di Indonesia. Para ulama terdahulu telah berkomentar banyak tentang kitab ini, di antaranya:
Abu Bakar Al Thurthusi berkata, “Abu Hamid telah memenuhi kitab Ihya’ dengan kedustaan terhadap Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Saya tidak tahu ada kitab di muka bumi ini yang lebih banyak kedustaan darinya, kemudian beliau campur dengan pemikiran-pemikiran filsafat dan kandungan isi Rasail Ikhwanush Shafa. Mereka adalah kaum yang memandang kenabian merupakan sesuatu yang dapat diusahakan.” (Dinukil Adz Dzahabi dalam Siyar A’lam Nubala 19/334).
Dalam risalahnya kepada Ibnu Mudzaffar, beliau pun menyatakan, “Adapun penjelasan Anda tentang Abu Hamid, maka saya telah melihatnya dan mengajaknya berbicara. Saya mendapatkan beliau seorang yang agung dari kalangan ulama. Memiliki kecerdasan akal dan pemahaman. Beliau telah menekuni ilmu sepanjang umurnya, bahkan hampir seluruh usianya. Dia dapat memahami jalannya para ulama dan masuk ke dalam kancah para pejabat tinggi. Kemudian beliau bertasawuf, menghijrahi ilmu dan ahlinya dan menekuni ilmu yang berkenaan dengan hati dan ahli ibadah serta was-was syaitan. Sehingga beliau rusak dengan pemikiran filsafat dan Al Hallaj (pemikiran wihdatul wujud). Mulai mencela ahli fikih dan ahli kalam. Sungguh dia hampir tergelincir keluar dari agama ini. Ketika menulis Al Ihya’ beliau mulai berbicara tentang ilmu ahwal dan rumus-rumus sufiyah, padahal belum mengenal betul dan tidak memiliki keahlian tentangnya. Sehingga dia berbuat kesalahan fatal dan memenuhi kitabnya dengan hadits-hadits palsu.” Imam Adz Dzahabi mengomentari perkataan ini dengan pernyataannya, “Adapun di dalam kitab Ihya’ terdapat sejumlah hadits-hadits yang batil dan terdapat kebaikan padanya, seandainya tidak ada adab dan tulisan serta zuhud secara jalannya ahli hikmah dan sufi yang menyimpang.” (Adz Dzahabi dalam Siyar A’lam Nubala 19/339-340).
Imam Subuki dalam Thabaqat Asy Syafi’iyah (Lihat 6/287-288) telah mengumpulkan hadits-hadits yang terdapat dalam kitab Al Ihya’ dan menemukan 943 hadits yang tidak diketahui sanadnya. Abul Fadhl Abdurrahim Al Iraqi mentakhrij hadits-hadits Al Ihya’ dalam kitabnya, Al Mughni An Asfari Fi Takhrij Ma Fi Al Ihya Minal Akhbar. Kitab ini dicetak bersama kitab Ihya Ulumuddin. Beliau sandarkan setiap hadits kepada sumber rujukannya dan menjelaskan derajat keabsahannya. Didapatkan banyak dari hadits-hadits tersebut yang beliau hukumi dengan lemah dan palsu atau tidak ada asalnya dari perkataan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Maka berhati-hatilah para penulis, khathib, pengajar dan para penceramah dalam mengambil hal-hal yang terdapat dalam kitab Ihya Ulumuddin.
(17) Al Munqidz Minad Dhalalah. Tulisan beliau yang banyak menjelaskan sisi biografinya.
(18) Al Wasith.
(19) Al Basith.
(20) Al Wajiz.
(21) Al Khulashah. Keempat kitab ini adalah kitab rujukan fiqih Syafi’iyah yang beliau tulis. Imam As Subki menyebutkan 57 karya beliau dalam Thabaqat Asy Syafi’iyah 6/224-227.
Aqidah dan Madzhab Beliau
Dalam masalah fikih, beliau seorang yang bermazhab Syafi’i. Nampak dari karyanya Al Wasith, Al Basith dan Al Wajiz. Bahkan kitab beliau Al Wajiz termasuk buku induk dalam mazhab Syafi’i. Mendapat perhatian khusus dari para ulama Syafi’iyah. Imam Adz Dzahabi menjelaskan mazhab fikih beliau dengan pernyataannya, “Syaikh Imam, Hujjatul Islam, A’jubatuz zaman, Zainuddin Abu Hamid Muhammad bin Muhammad bin Muhammad bin Ahmad Ath Thusi Asy Syafi’i.”
Sedangkan dalam sisi akidah, beliau sudah terkenal dan masyhur sebagai seorang yang bermazhab Asy’ariyah. Banyak membela Asy’ariyah dalam membantah Bathiniyah, para filosof serta kelompok yang menyelisihi mazhabnya. Bahkan termasuk salah satu pilar dalam mazhab tersebut. Oleh karena itu beliau menamakan kitab aqidahnya yang terkenal dengan judul Al Iqtishad Fil I’tiqad. Tetapi karya beliau dalam aqidah dan cara pengambilan dalilnya, hanyalah merupakan ringkasan dari karya tokoh ulama Asy’ariyah sebelum beliau (pendahulunya). Tidak memberikan sesuatu yang baru dalam mazhab Asy’ariyah. Beliau hanya memaparkan dalam bentuk baru dan cara yang cukup mudah. Keterkenalan Imam Ghazali sebagai tokoh Asy’ariyah juga dibarengi dengan kesufiannya. Beliau menjadi patokan marhalah yang sangat penting menyatunya Sufiyah ke dalam Asy’ariyah.
Akan tetapi tasawuf apakah yang diyakini beliau? Memang agak sulit menentukan tasawuf beliau. Karena seringnya beliau membantah sesuatu, kemudian beliau jadikan sebagai aqidahnya. Beliau mengingkari filsafat dalam kitab Tahafut, tetapi beliau sendiri menekuni filsafat dan menyetujuinya.
Ketika berbicara dengan Asy’ariyah tampaklah sebagai seorang Asy’ari tulen. Ketika berbicara tasawuf, dia menjadi sufi. Menunjukkan seringnya beliau berpindah-pindah dan tidak tetap dengan satu mazhab. Oleh karena itu Ibnu Rusyd mencelanya dengan mengatakan, “Beliau tidak berpegang teguh dengan satu mazhab saja dalam buku-bukunya. Akan tetapi beliau menjadi Asy’ari bersama Asy’ariyah, sufi bersama sufiyah dan filosof bersama filsafat.” (Lihat Mukadimah kitab Bughyatul Murtad hal. 110).
Adapun orang yang menelaah kitab dan karya beliau seperti Misykatul Anwar, Al Ma’arif Aqliyah, Mizanul Amal, Ma’arijul Quds, Raudhatuthalibin, Al Maqshad Al Asna, Jawahirul Qur’an dan Al Madmun Bihi Ala Ghairi Ahlihi, akan mengetahui bahwa tasawuf beliau berbeda dengan tasawuf orang sebelumnya. Syaikh Dr. Abdurrahman bin Shalih Ali Mahmud menjelaskan tasawuf Al Ghazali dengan menyatakan, bahwa kunci mengenal kepribadian Al Ghazali ada dua perkara:
Pertama, pendapat beliau, bahwa setiap orang memiliki tiga aqidah. Yang pertama, ditampakkan di hadapan orang awam dan yang difanatikinya. Kedua, beredar dalam ta’lim dan ceramah. Ketiga, sesuatu yang dii’tiqadi seseorang dalam dirinya. Tidak ada yang mengetahui kecuali teman yang setara pengetahuannya. Bila demikian, Al Ghazali menyembunyikan sisi khusus dan rahasia dalam aqidahnya.
Kedua, mengumpulkan pendapat dan uraian singkat beliau yang selalu mengisyaratkan kerahasian akidahnya. Kemudian membandingkannya dengan pendapat para filosof saat beliau belum cenderung kepada filsafat Isyraqi dan tasawuf, seperti Ibnu Sina dan yang lainnya. (Mauqif Ibnu Taimiyah Minal Asyariyah 2/628).
Beliau (Syeikh Dr. Abdurrahman bin Shalih Ali Mahmud) menyimpulkan hasil penelitian dan pendapat para peneliti pemikiran Al Ghazali, bahwa tasawuf Al Ghazali dilandasi filsafat Isyraqi (Madzhab Isyraqi dalam filsafat ialah mazhab yang menyatukan pemikiran dan ajaran dalam agama-agama kuno, Yunani dan Parsi. Termasuk bagian dari filsafat Yunani dan Neo-Platoisme. Lihat Al Mausu’ah Al Muyassarah Fi Al Adyan Wal Madzahibi Wal Ahzab Al Mu’ashirah, karya Dr. Mani’ bin Hamad Al Juhani 2/928-929). Sebenarnya inilah yang dikembangkan beliau akibat pengaruh karya-karya Ibnu Sina dan Ikhwanush Shafa. Demikian juga dijelaskan pentahqiq kitab Bughyatul Murtad dalam mukadimahnya. Setelah menyimpulkan bantahan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah terhadap beliau dengan mengatakan, “Bantahan Ibnu Taimiyah terhadap Al Ghazali didasarkan kejelasannya mengikuti filsafat dan terpengaruh dengan sekte Bathiniyah dalam menta’wil nash-nash, walaupun beliau membantah habis-habisan mereka, seperti dalam kitab Al Mustadzhiri. Ketika tujuan kitab ini (Bughyatul Murtad, pen) adalah untuk membantah orang yang berusaha menyatukan agama dan filsafat, maka Syaikhul Islam menjelaskan bentuk usaha tersebut pada Al Ghazali. Yang berusaha menafsirkan nash-nash dengan tafsir filsafat Isyraqi yang didasarkan atas ta’wil batin terhadap nash, sesuai dengan pokok-pokok ajaran ahli Isyraq (pengikut filsafat neo-platonisme).” (Lihat Mukadimah kitab Bughyatul Murtad hal. 111).
Tetapi perlu diketahui, bahwa pada akhir hayatnya, beliau kembali kepada ajaran Ahlusunnah Wal Jama’ah meninggalkan filsafat dan ilmu kalam, dengan menekuni Shahih Bukhari dan Muslim. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata, “Penulis Jawahirul Qur’an (Al Ghazali, pen) karena banyak meneliti perkataan para filosof dan merujuk kepada mereka, sehingga banyak mencampur pendapatnya dengan perkataan mereka. Pun beliau menolak banyak hal yang bersesuaian dengan mereka. Beliau memastikan, bahwa perkataan filosof tidak memberikan ilmu dan keyakinan. Demikian juga halnya perkataan ahli kalam. Pada akhirnya beliau menyibukkan diri meneliti Shahih Bukhari dan Muslim hingga wafatnya dalam keadaan demikian. Wallahu a’lam.”
***
Sumber: Majalah As Sunnah
Penyusun: Ust. Kholid Syamhudi, Lc.
Dipublikasikan kembali oleh www.muslim.or.id
Sejarah Hidup Imam Al Ghazali (1)
Imam Al Ghazali, sebuah nama yang tidak asing di telinga kaum muslimin. Tokoh terkemuka dalam kancah filsafat dan tasawuf. Memiliki pengaruh dan pemikiran yang telah menyebar ke seantero dunia Islam. Ironisnya sejarah dan perjalanan hidupnya masih terasa asing. Kebanyakan kaum muslimin belum mengerti. Berikut adalah sebagian sisi kehidupannya. Sehingga setiap kaum muslimin yang mengikutinya, hendaknya mengambil hikmah dari sejarah hidup beliau.
Nama, Nasab dan Kelahiran Beliau
Beliau bernama Muhammad bin Muhammad bin Muhammad bin Ahmad Ath Thusi, Abu Hamid Al Ghazali (Lihat Adz Dzahabi, Siyar A’lam Nubala’ 19/323 dan As Subki, Thabaqat Asy Syafi’iyah 6/191). Para ulama nasab berselisih dalam penyandaran nama Imam Al Ghazali. Sebagian mengatakan, bahwa penyandaran nama beliau kepada daerah Ghazalah di Thusi, tempat kelahiran beliau. Ini dikuatkan oleh Al Fayumi dalam Al Mishbah Al Munir. Penisbatan pendapat ini kepada salah seorang keturunan Al Ghazali. Yaitu Majdudin Muhammad bin Muhammad bin Muhyiddin Muhamad bin Abi Thahir Syarwan Syah bin Abul Fadhl bin Ubaidillah anaknya Situ Al Mana bintu Abu Hamid Al Ghazali yang mengatakan, bahwa telah salah orang yang menyandarkan nama kakek kami tersebut dengan ditasydid (Al Ghazzali).
Sebagian lagi mengatakan penyandaran nama beliau kepada pencaharian dan keahlian keluarganya yaitu menenun. Sehingga nisbatnya ditasydid (Al Ghazzali). Demikian pendapat Ibnul Atsir. Dan dinyatakan Imam Nawawi, “Tasydid dalam Al Ghazzali adalah yang benar.” Bahkan Ibnu Assam’ani mengingkari penyandaran nama yang pertama dan berkata, “Saya telah bertanya kepada penduduk Thusi tentang daerah Al Ghazalah, dan mereka mengingkari keberadaannya.” Ada yang berpendapat Al Ghazali adalah penyandaran nama kepada Ghazalah anak perempuan Ka’ab Al Akhbar, ini pendapat Al Khafaji.
Yang dijadikan sandaran para ahli nasab mutaakhirin adalah pendapat Ibnul Atsir dengan tasydid. Yaitu penyandaran nama kepada pekerjaan dan keahlian bapak dan kakeknya (Diringkas dari penjelasan pentahqiq kitab Thabaqat Asy Syafi’iyah dalam catatan kakinya 6/192-192). Dilahirkan di kota Thusi tahun 450 H dan memiliki seorang saudara yang bernama Ahmad (Lihat Adz Dzahabi, Siyar A’lam Nubala’ 19/326 dan As Subki, Thabaqat Asy Syafi’iyah 6/193 dan 194).
Kehidupan dan Perjalanannya Menuntut Ilmu
Ayah beliau adalah seorang pengrajin kain shuf (yang dibuat dari kulit domba) dan menjualnya di kota Thusi. Menjelang wafat dia mewasiatkan pemeliharaan kedua anaknya kepada temannya dari kalangan orang yang baik. Dia berpesan, “Sungguh saya menyesal tidak belajar khat (tulis menulis Arab) dan saya ingin memperbaiki apa yang telah saya alami pada kedua anak saya ini. Maka saya mohon engkau mengajarinya, dan harta yang saya tinggalkan boleh dihabiskan untuk keduanya.”
Setelah meninggal, maka temannya tersebut mengajari keduanya ilmu, hingga habislah harta peninggalan yang sedikit tersebut. Kemudian dia meminta maaf tidak dapat melanjutkan wasiat orang tuanya dengan harta benda yang dimilikinya. Dia berkata, “Ketahuilah oleh kalian berdua, saya telah membelanjakan untuk kalian dari harta kalian. Saya seorang fakir dan miskin yang tidak memiliki harta. Saya menganjurkan kalian berdua untuk masuk ke madrasah seolah-olah sebagai penuntut ilmu. Sehingga memperoleh makanan yang dapat membantu kalian berdua.”
Lalu keduanya melaksanakan anjuran tersebut. Inilah yang menjadi sebab kebahagiaan dan ketinggian mereka. Demikianlah diceritakan oleh Al Ghazali, hingga beliau berkata, “Kami menuntut ilmu bukan karena Allah ta’ala , akan tetapi ilmu enggan kecuali hanya karena Allah ta’ala.” (Dinukil dari Thabaqat Asy Syafi’iyah 6/193-194).
Beliau pun bercerita, bahwa ayahnya seorang fakir yang shalih. Tidak memakan kecuali hasil pekerjaannya dari kerajinan membuat pakaian kulit. Beliau berkeliling mengujungi ahli fikih dan bermajelis dengan mereka, serta memberikan nafkah semampunya. Apabila mendengar perkataan mereka (ahli fikih), beliau menangis dan berdoa memohon diberi anak yang faqih. Apabila hadir di majelis ceramah nasihat, beliau menangis dan memohon kepada Allah ta’ala untuk diberikan anak yang ahli dalam ceramah nasihat.
Kiranya Allah mengabulkan kedua doa beliau tersebut. Imam Al Ghazali menjadi seorang yang faqih dan saudaranya (Ahmad) menjadi seorang yang ahli dalam memberi ceramah nasihat (Dinukil dari Thabaqat Asy Syafi’iyah 6/194).
Imam Al Ghazali memulai belajar di kala masih kecil. Mempelajari fikih dari Syaikh Ahmad bin Muhammad Ar Radzakani di kota Thusi. Kemudian berangkat ke Jurjan untuk mengambil ilmu dari Imam Abu Nashr Al Isma’ili dan menulis buku At Ta’liqat. Kemudian pulang ke Thusi (Lihat kisah selengkapnya dalam Thabaqat Asy Syafi’iyah 6/195).
Beliau mendatangi kota Naisabur dan berguru kepada Imam Haramain Al Juwaini dengan penuh kesungguhan. Sehingga berhasil menguasai dengan sangat baik fikih mazhab Syafi’i dan fikih khilaf, ilmu perdebatan, ushul, manthiq, hikmah dan filsafat. Beliau pun memahami perkataan para ahli ilmu tersebut dan membantah orang yang menyelisihinya. Menyusun tulisan yang membuat kagum guru beliau, yaitu Al Juwaini (Lihat Adz Dzahabi, Siyar A’lam Nubala’ 19/323 dan As Subki, Thabaqat Asy Syafi’iyah 6/191).
Setelah Imam Haramain meninggal, berangkatlah Imam Ghazali ke perkemahan Wazir Nidzamul Malik. Karena majelisnya tempat berkumpul para ahli ilmu, sehingga beliau menantang debat kepada para ulama dan mengalahkan mereka. Kemudian Nidzamul Malik mengangkatnya menjadi pengajar di madrasahnya di Baghdad dan memerintahkannya untuk pindah ke sana. Maka pada tahun 484 H beliau berangkat ke Baghdad dan mengajar di Madrasah An Nidzamiyah dalam usia tiga puluhan tahun. Disinilah beliau berkembang dan menjadi terkenal. Mencapai kedudukan yang sangat tinggi.
Pengaruh Filsafat Dalam Dirinya
Pengaruh filsafat dalam diri beliau begitu kentalnya. Beliau menyusun buku yang berisi celaan terhadap filsafat, seperti kitab At Tahafut yang membongkar kejelekan filsafat. Akan tetapi beliau menyetujui mereka dalam beberapa hal yang disangkanya benar. Hanya saja kehebatan beliau ini tidak didasari dengan ilmu atsar dan keahlian dalam hadits-hadits Nabi yang dapat menghancurkan filsafat. Beliau juga gemar meneliti kitab Ikhwanush Shafa dan kitab-kitab Ibnu Sina. Oleh karena itu, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata, “Al Ghazali dalam perkataannya sangat dipengaruhi filsafat dari karya-karya Ibnu Sina dalam kitab Asy Syifa’, Risalah Ikhwanish Shafa dan karya Abu Hayan At Tauhidi.” (Majmu’ Fatawa 6/54).
Hal ini jelas terlihat dalam kitabnya Ihya’ Ulumuddin. Sehingga Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata, “Perkataannya di Ihya Ulumuddin pada umumnya baik. Akan tetapi di dalamnya terdapat isi yang merusak, berupa filsafat, ilmu kalam, cerita bohong sufiyah dan hadits-hadits palsu.” (Majmu’ Fatawa 6/54).
Demikianlah Imam Ghazali dengan kejeniusan dan kepakarannya dalam fikih, tasawuf dan ushul, tetapi sangat sedikit pengetahuannya tentang ilmu hadits dan sunah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang seharusnya menjadi pengarah dan penentu kebenaran. Akibatnya beliau menyukai filsafat dan masuk ke dalamnya dengan meneliti dan membedah karya-karya Ibnu Sina dan yang sejenisnya, walaupun beliau memiliki bantahan terhadapnya. Membuat beliau semakin jauh dari ajaran Islam yang hakiki.
Adz Dzahabi berkata, “Orang ini (Al Ghazali) menulis kitab dalam mencela filsafat, yaitu kitab At Tahafut. Dia membongkar kejelekan mereka, akan tetapi dalam beberapa hal menyetujuinya, dengan prasangka hal itu benar dan sesuai dengan agama. Beliau tidaklah memiliki ilmu tentang atsar dan beliau bukanlah pakar dalam hadits-hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang dapat mengarahkan akal. Beliau senang membedah dan meneliti kitab Ikhwanush Shafa. Kitab ini merupakan penyakit berbahaya dan racun yang mematikan. Kalaulah Abu Hamid bukan seorang yang jenius dan orang yang mukhlis, niscaya dia telah binasa.” (Siyar A’lam Nubala 19/328).
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata, “Abu Hamid condong kepada filsafat. Menampakkannya dalam bentuk tasawuf dan dengan ibarat Islami (ungkapan syar’i). Oleh karena itu para ulama muslimin membantahnya. Hingga murid terdekatnya, (yaitu) Abu Bakar Ibnul Arabi mengatakan, “Guru kami Abu Hamid masuk ke perut filsafat, kemudian ingin keluar dan tidak mampu.” (Majmu’ Fatawa 4/164).
Polemik Kejiwaan Imam Ghazali
Kedudukan dan ketinggian jabatan beliau ini tidak membuatnya congkak dan cinta dunia. Bahkan dalam jiwanya berkecamuk polemik (perang batin) yang membuatnya senang menekuni ilmu-ilmu kezuhudan. Sehingga menolak jabatan tinggi dan kembali kepada ibadah, ikhlas dan perbaikan jiwa. Pada bulan Dzul Qai’dah tahun 488 H beliau berhaji dan mengangkat saudaranya yang bernama Ahmad sebagai penggantinya.
Pada tahun 489 H beliau masuk kota Damaskus dan tinggal beberapa hari. Kemudian menziarahi Baitul Maqdis beberapa lama, dan kembali ke Damaskus beri’tikaf di menara barat masjid Jami’ Damaskus. Beliau banyak duduk di pojok tempat Syaikh Nashr bin Ibrahim Al Maqdisi di masjid Jami’ Umawi (yang sekarang dinamai Al Ghazaliyah). Tinggal di sana dan menulis kitab Ihya Ulumuddin, Al Arba’in, Al Qisthas dan kitab Mahakkun Nadzar. Melatih jiwa dan mengenakan pakaian para ahli ibadah. Beliau tinggal di Syam sekitar 10 tahun.
Ibnu Asakir berkata, “Abu Hamid rahimahullah berhaji dan tinggal di Syam sekitar 10 tahun. Beliau menulis dan bermujahadah dan tinggal di menara barat masjid Jami’ Al Umawi. Mendengarkan kitab Shahih Bukhari dari Abu Sahl Muhammad bin Ubaidilah Al Hafshi.” (Dinukil oleh Adz Dzahabi dalam Siyar A’lam Nubala 6/34).
Disampaikan juga oleh Ibnu Khallakan dengan perkataannya, “An Nidzam (Nidzam Mulk) mengutusnya untuk menjadi pengajar di madrasahnya di Baghdad tahun 484 H. Beliau tinggalkan jabatannya pada tahun 488 H. Lalu menjadi orang yang zuhud, berhaji dan tinggal menetap di Damaskus beberapa lama. Kemudian pindah ke Baitul Maqdis, lalu ke Mesir dan tinggal beberapa lama di Iskandariyah. Kemudian kembali ke Thusi.” (Dinukil oleh Adz Dzahabi dalam Siyar A’lam Nubala 6/34).
Ketika Wazir Fakhrul Mulk menjadi penguasa Khurasan, beliau dipanggil hadir dan diminta tinggal di Naisabur. Sampai akhirnya beliau datang ke Naisabur dan mengajar di madrasah An Nidzamiyah beberapa saat. Setelah beberapa tahun, pulang ke negerinya dengan menekuni ilmu dan menjaga waktunya untuk beribadah. Beliau mendirikan satu madrasah di samping rumahnya dan asrama untuk orang-orang shufi. Beliau habiskan sisa waktunya dengan mengkhatam Al Qur’an, berkumpul dengan ahli ibadah, mengajar para penuntut ilmu dan melakukan shalat dan puasa serta ibadah lainnya sampai meninggal dunia.
Masa Akhir Kehidupannya
Akhir kehidupan beliau dihabiskan dengan kembali mempelajari hadits dan berkumpul dengan ahlinya. Berkata Imam Adz Dzahabi, “Pada akhir kehidupannya, beliau tekun menuntut ilmu hadits dan berkumpul dengan ahlinya serta menelaah shahihain (Shahih Bukhari dan Muslim). Seandainya beliau berumur panjang, niscaya dapat menguasai semuanya dalam waktu singkat. Beliau belum sempat meriwayatkan hadits dan tidak memiliki keturunan kecuali beberapa orang putri.”
Abul Faraj Ibnul Jauzi menyampaikan kisah meninggalnya beliau dalam kitab Ats Tsabat Indal Mamat, menukil cerita Ahmad (saudaranya); Pada subuh hari Senin, saudaraku Abu Hamid berwudhu dan shalat, lalu berkata, “Bawa kemari kain kafan saya.” Lalu beliau mengambil dan menciumnya serta meletakkannya di kedua matanya, dan berkata, “Saya patuh dan taat untuk menemui Malaikat Maut.” Kemudian beliau meluruskan kakinya dan menghadap kiblat. Beliau meninggal sebelum langit menguning (menjelang pagi hari). (Dinukil oleh Adz Dzahabi dalam Siyar A’lam Nubala 6/34). Beliau wafat di kota Thusi, pada hari Senin tanggal 14 Jumada Akhir tahun 505 H dan dikuburkan di pekuburan Ath Thabaran (Thabaqat Asy Syafi’iyah 6/201).
Nama, Nasab dan Kelahiran Beliau
Beliau bernama Muhammad bin Muhammad bin Muhammad bin Ahmad Ath Thusi, Abu Hamid Al Ghazali (Lihat Adz Dzahabi, Siyar A’lam Nubala’ 19/323 dan As Subki, Thabaqat Asy Syafi’iyah 6/191). Para ulama nasab berselisih dalam penyandaran nama Imam Al Ghazali. Sebagian mengatakan, bahwa penyandaran nama beliau kepada daerah Ghazalah di Thusi, tempat kelahiran beliau. Ini dikuatkan oleh Al Fayumi dalam Al Mishbah Al Munir. Penisbatan pendapat ini kepada salah seorang keturunan Al Ghazali. Yaitu Majdudin Muhammad bin Muhammad bin Muhyiddin Muhamad bin Abi Thahir Syarwan Syah bin Abul Fadhl bin Ubaidillah anaknya Situ Al Mana bintu Abu Hamid Al Ghazali yang mengatakan, bahwa telah salah orang yang menyandarkan nama kakek kami tersebut dengan ditasydid (Al Ghazzali).
Sebagian lagi mengatakan penyandaran nama beliau kepada pencaharian dan keahlian keluarganya yaitu menenun. Sehingga nisbatnya ditasydid (Al Ghazzali). Demikian pendapat Ibnul Atsir. Dan dinyatakan Imam Nawawi, “Tasydid dalam Al Ghazzali adalah yang benar.” Bahkan Ibnu Assam’ani mengingkari penyandaran nama yang pertama dan berkata, “Saya telah bertanya kepada penduduk Thusi tentang daerah Al Ghazalah, dan mereka mengingkari keberadaannya.” Ada yang berpendapat Al Ghazali adalah penyandaran nama kepada Ghazalah anak perempuan Ka’ab Al Akhbar, ini pendapat Al Khafaji.
Yang dijadikan sandaran para ahli nasab mutaakhirin adalah pendapat Ibnul Atsir dengan tasydid. Yaitu penyandaran nama kepada pekerjaan dan keahlian bapak dan kakeknya (Diringkas dari penjelasan pentahqiq kitab Thabaqat Asy Syafi’iyah dalam catatan kakinya 6/192-192). Dilahirkan di kota Thusi tahun 450 H dan memiliki seorang saudara yang bernama Ahmad (Lihat Adz Dzahabi, Siyar A’lam Nubala’ 19/326 dan As Subki, Thabaqat Asy Syafi’iyah 6/193 dan 194).
Kehidupan dan Perjalanannya Menuntut Ilmu
Ayah beliau adalah seorang pengrajin kain shuf (yang dibuat dari kulit domba) dan menjualnya di kota Thusi. Menjelang wafat dia mewasiatkan pemeliharaan kedua anaknya kepada temannya dari kalangan orang yang baik. Dia berpesan, “Sungguh saya menyesal tidak belajar khat (tulis menulis Arab) dan saya ingin memperbaiki apa yang telah saya alami pada kedua anak saya ini. Maka saya mohon engkau mengajarinya, dan harta yang saya tinggalkan boleh dihabiskan untuk keduanya.”
Setelah meninggal, maka temannya tersebut mengajari keduanya ilmu, hingga habislah harta peninggalan yang sedikit tersebut. Kemudian dia meminta maaf tidak dapat melanjutkan wasiat orang tuanya dengan harta benda yang dimilikinya. Dia berkata, “Ketahuilah oleh kalian berdua, saya telah membelanjakan untuk kalian dari harta kalian. Saya seorang fakir dan miskin yang tidak memiliki harta. Saya menganjurkan kalian berdua untuk masuk ke madrasah seolah-olah sebagai penuntut ilmu. Sehingga memperoleh makanan yang dapat membantu kalian berdua.”
Lalu keduanya melaksanakan anjuran tersebut. Inilah yang menjadi sebab kebahagiaan dan ketinggian mereka. Demikianlah diceritakan oleh Al Ghazali, hingga beliau berkata, “Kami menuntut ilmu bukan karena Allah ta’ala , akan tetapi ilmu enggan kecuali hanya karena Allah ta’ala.” (Dinukil dari Thabaqat Asy Syafi’iyah 6/193-194).
Beliau pun bercerita, bahwa ayahnya seorang fakir yang shalih. Tidak memakan kecuali hasil pekerjaannya dari kerajinan membuat pakaian kulit. Beliau berkeliling mengujungi ahli fikih dan bermajelis dengan mereka, serta memberikan nafkah semampunya. Apabila mendengar perkataan mereka (ahli fikih), beliau menangis dan berdoa memohon diberi anak yang faqih. Apabila hadir di majelis ceramah nasihat, beliau menangis dan memohon kepada Allah ta’ala untuk diberikan anak yang ahli dalam ceramah nasihat.
Kiranya Allah mengabulkan kedua doa beliau tersebut. Imam Al Ghazali menjadi seorang yang faqih dan saudaranya (Ahmad) menjadi seorang yang ahli dalam memberi ceramah nasihat (Dinukil dari Thabaqat Asy Syafi’iyah 6/194).
Imam Al Ghazali memulai belajar di kala masih kecil. Mempelajari fikih dari Syaikh Ahmad bin Muhammad Ar Radzakani di kota Thusi. Kemudian berangkat ke Jurjan untuk mengambil ilmu dari Imam Abu Nashr Al Isma’ili dan menulis buku At Ta’liqat. Kemudian pulang ke Thusi (Lihat kisah selengkapnya dalam Thabaqat Asy Syafi’iyah 6/195).
Beliau mendatangi kota Naisabur dan berguru kepada Imam Haramain Al Juwaini dengan penuh kesungguhan. Sehingga berhasil menguasai dengan sangat baik fikih mazhab Syafi’i dan fikih khilaf, ilmu perdebatan, ushul, manthiq, hikmah dan filsafat. Beliau pun memahami perkataan para ahli ilmu tersebut dan membantah orang yang menyelisihinya. Menyusun tulisan yang membuat kagum guru beliau, yaitu Al Juwaini (Lihat Adz Dzahabi, Siyar A’lam Nubala’ 19/323 dan As Subki, Thabaqat Asy Syafi’iyah 6/191).
Setelah Imam Haramain meninggal, berangkatlah Imam Ghazali ke perkemahan Wazir Nidzamul Malik. Karena majelisnya tempat berkumpul para ahli ilmu, sehingga beliau menantang debat kepada para ulama dan mengalahkan mereka. Kemudian Nidzamul Malik mengangkatnya menjadi pengajar di madrasahnya di Baghdad dan memerintahkannya untuk pindah ke sana. Maka pada tahun 484 H beliau berangkat ke Baghdad dan mengajar di Madrasah An Nidzamiyah dalam usia tiga puluhan tahun. Disinilah beliau berkembang dan menjadi terkenal. Mencapai kedudukan yang sangat tinggi.
Pengaruh Filsafat Dalam Dirinya
Pengaruh filsafat dalam diri beliau begitu kentalnya. Beliau menyusun buku yang berisi celaan terhadap filsafat, seperti kitab At Tahafut yang membongkar kejelekan filsafat. Akan tetapi beliau menyetujui mereka dalam beberapa hal yang disangkanya benar. Hanya saja kehebatan beliau ini tidak didasari dengan ilmu atsar dan keahlian dalam hadits-hadits Nabi yang dapat menghancurkan filsafat. Beliau juga gemar meneliti kitab Ikhwanush Shafa dan kitab-kitab Ibnu Sina. Oleh karena itu, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata, “Al Ghazali dalam perkataannya sangat dipengaruhi filsafat dari karya-karya Ibnu Sina dalam kitab Asy Syifa’, Risalah Ikhwanish Shafa dan karya Abu Hayan At Tauhidi.” (Majmu’ Fatawa 6/54).
Hal ini jelas terlihat dalam kitabnya Ihya’ Ulumuddin. Sehingga Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata, “Perkataannya di Ihya Ulumuddin pada umumnya baik. Akan tetapi di dalamnya terdapat isi yang merusak, berupa filsafat, ilmu kalam, cerita bohong sufiyah dan hadits-hadits palsu.” (Majmu’ Fatawa 6/54).
Demikianlah Imam Ghazali dengan kejeniusan dan kepakarannya dalam fikih, tasawuf dan ushul, tetapi sangat sedikit pengetahuannya tentang ilmu hadits dan sunah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang seharusnya menjadi pengarah dan penentu kebenaran. Akibatnya beliau menyukai filsafat dan masuk ke dalamnya dengan meneliti dan membedah karya-karya Ibnu Sina dan yang sejenisnya, walaupun beliau memiliki bantahan terhadapnya. Membuat beliau semakin jauh dari ajaran Islam yang hakiki.
Adz Dzahabi berkata, “Orang ini (Al Ghazali) menulis kitab dalam mencela filsafat, yaitu kitab At Tahafut. Dia membongkar kejelekan mereka, akan tetapi dalam beberapa hal menyetujuinya, dengan prasangka hal itu benar dan sesuai dengan agama. Beliau tidaklah memiliki ilmu tentang atsar dan beliau bukanlah pakar dalam hadits-hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang dapat mengarahkan akal. Beliau senang membedah dan meneliti kitab Ikhwanush Shafa. Kitab ini merupakan penyakit berbahaya dan racun yang mematikan. Kalaulah Abu Hamid bukan seorang yang jenius dan orang yang mukhlis, niscaya dia telah binasa.” (Siyar A’lam Nubala 19/328).
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata, “Abu Hamid condong kepada filsafat. Menampakkannya dalam bentuk tasawuf dan dengan ibarat Islami (ungkapan syar’i). Oleh karena itu para ulama muslimin membantahnya. Hingga murid terdekatnya, (yaitu) Abu Bakar Ibnul Arabi mengatakan, “Guru kami Abu Hamid masuk ke perut filsafat, kemudian ingin keluar dan tidak mampu.” (Majmu’ Fatawa 4/164).
Polemik Kejiwaan Imam Ghazali
Kedudukan dan ketinggian jabatan beliau ini tidak membuatnya congkak dan cinta dunia. Bahkan dalam jiwanya berkecamuk polemik (perang batin) yang membuatnya senang menekuni ilmu-ilmu kezuhudan. Sehingga menolak jabatan tinggi dan kembali kepada ibadah, ikhlas dan perbaikan jiwa. Pada bulan Dzul Qai’dah tahun 488 H beliau berhaji dan mengangkat saudaranya yang bernama Ahmad sebagai penggantinya.
Pada tahun 489 H beliau masuk kota Damaskus dan tinggal beberapa hari. Kemudian menziarahi Baitul Maqdis beberapa lama, dan kembali ke Damaskus beri’tikaf di menara barat masjid Jami’ Damaskus. Beliau banyak duduk di pojok tempat Syaikh Nashr bin Ibrahim Al Maqdisi di masjid Jami’ Umawi (yang sekarang dinamai Al Ghazaliyah). Tinggal di sana dan menulis kitab Ihya Ulumuddin, Al Arba’in, Al Qisthas dan kitab Mahakkun Nadzar. Melatih jiwa dan mengenakan pakaian para ahli ibadah. Beliau tinggal di Syam sekitar 10 tahun.
Ibnu Asakir berkata, “Abu Hamid rahimahullah berhaji dan tinggal di Syam sekitar 10 tahun. Beliau menulis dan bermujahadah dan tinggal di menara barat masjid Jami’ Al Umawi. Mendengarkan kitab Shahih Bukhari dari Abu Sahl Muhammad bin Ubaidilah Al Hafshi.” (Dinukil oleh Adz Dzahabi dalam Siyar A’lam Nubala 6/34).
Disampaikan juga oleh Ibnu Khallakan dengan perkataannya, “An Nidzam (Nidzam Mulk) mengutusnya untuk menjadi pengajar di madrasahnya di Baghdad tahun 484 H. Beliau tinggalkan jabatannya pada tahun 488 H. Lalu menjadi orang yang zuhud, berhaji dan tinggal menetap di Damaskus beberapa lama. Kemudian pindah ke Baitul Maqdis, lalu ke Mesir dan tinggal beberapa lama di Iskandariyah. Kemudian kembali ke Thusi.” (Dinukil oleh Adz Dzahabi dalam Siyar A’lam Nubala 6/34).
Ketika Wazir Fakhrul Mulk menjadi penguasa Khurasan, beliau dipanggil hadir dan diminta tinggal di Naisabur. Sampai akhirnya beliau datang ke Naisabur dan mengajar di madrasah An Nidzamiyah beberapa saat. Setelah beberapa tahun, pulang ke negerinya dengan menekuni ilmu dan menjaga waktunya untuk beribadah. Beliau mendirikan satu madrasah di samping rumahnya dan asrama untuk orang-orang shufi. Beliau habiskan sisa waktunya dengan mengkhatam Al Qur’an, berkumpul dengan ahli ibadah, mengajar para penuntut ilmu dan melakukan shalat dan puasa serta ibadah lainnya sampai meninggal dunia.
Masa Akhir Kehidupannya
Akhir kehidupan beliau dihabiskan dengan kembali mempelajari hadits dan berkumpul dengan ahlinya. Berkata Imam Adz Dzahabi, “Pada akhir kehidupannya, beliau tekun menuntut ilmu hadits dan berkumpul dengan ahlinya serta menelaah shahihain (Shahih Bukhari dan Muslim). Seandainya beliau berumur panjang, niscaya dapat menguasai semuanya dalam waktu singkat. Beliau belum sempat meriwayatkan hadits dan tidak memiliki keturunan kecuali beberapa orang putri.”
Abul Faraj Ibnul Jauzi menyampaikan kisah meninggalnya beliau dalam kitab Ats Tsabat Indal Mamat, menukil cerita Ahmad (saudaranya); Pada subuh hari Senin, saudaraku Abu Hamid berwudhu dan shalat, lalu berkata, “Bawa kemari kain kafan saya.” Lalu beliau mengambil dan menciumnya serta meletakkannya di kedua matanya, dan berkata, “Saya patuh dan taat untuk menemui Malaikat Maut.” Kemudian beliau meluruskan kakinya dan menghadap kiblat. Beliau meninggal sebelum langit menguning (menjelang pagi hari). (Dinukil oleh Adz Dzahabi dalam Siyar A’lam Nubala 6/34). Beliau wafat di kota Thusi, pada hari Senin tanggal 14 Jumada Akhir tahun 505 H dan dikuburkan di pekuburan Ath Thabaran (Thabaqat Asy Syafi’iyah 6/201).
Selasa, 22 Februari 2011
Menyelam Ke Samudera Jiwa dan Ruh
Penulis : Agus Mustofa
Penerbit : PADMA Press Padang Makhsyar
SINOPSIS
Penerbit : PADMA Press Padang Makhsyar
SINOPSIS
“Jiwa dan Ruh, Siapa Diatas yang Lain?”
Diresensi oleh Shelvi NovianitaDalam kehidupan sehari-hari kita sering dibingungkan oleh pemahaman akan jiwa dan ruh. Sebagian masyarakat berpendapat bahwa jiwa dan ruh itu berbeda maknanya. Masyarakat meyakini bahwa jiwa manusia itu berada di balik hati nurani. Mereka meyakini pula jika di saat kita tidur, ruh kita terbang dan ruh itu nantinya akan kembali pada kita jika Allah menginginkan. Sementara, sebagian masyarakat lainnya menganggap bahwa jiwa dan ruh bermakna sama. Jiwa adalah ruh, dan ruh adalah jiwa. Lantas, manakah yang benar? Apakah jiwa itu? Apakah jiwa memiliki persamaan makna dengan ruh? Benarkah anggapan masyarakat tentang jiwa yang bersemayam di balik hati nurani?
Buku “Menyelam ke Samudera Jiwa dan Ruh” ini mengajak pembaca untuk memahami perbedaan makna jiwa dengan ruh. Pemaparan-pemaparan mengenai jiwa dan ruh detail serta kebenarannya terpercaya karena didukung oleh ayat-ayat Al-Qur’an dan beberapa buku referensi lain. Pembaca diyakinkan bahwa potensi jiwa berada di balik kemampuan otak. Dengan kata lain, kekuatan otak merupakan kekuatan jiwa. Hal ini tersurat dalam buku tersebut (hal:157). Sementara, ruh adalah suatu anugerah dari Allah yang dimiliki oleh manusia. Ruh merupakan anugerah yang besar karena setiap ruh (baca: ruh manusia) mewarisi sebagian sifat-sifat Allah. Maha Suci dan Maha Besar Allah atas segala sesuatu yang dikehendakiNya.
Buku ini merupakan karya ke-5 Agus Mustofa. Selain itu penulis telah menelurkan puluhan karya dalam katagori best seller. Agus Mustofa lahir di Malang, 16 Agustus 1963. Perpaduan antara ilmu tasawwuf dan sains yang dimilikinya telah menghasilkan tipikal pemikiran yang unik pada Agus Mustofa, yang disebutnya sebagai “Tasawwuf Modern”. Kini ia memfokuskan diri melakukan syiar ilmu-ilmu Allah di masjid, di kampus, serta berbagai instansi atau perusahaan, dan berdiskusi dalam format yang khas, yaitu Islam, sains, dan pemikiran modern. Buku-buku best sellernya yang lain adalah Pusaran Energi Ka’bah, Ternyata Akhirat Tidak Kekal, Terpesona di Sidratul Muntaha, Untuk Apa Berpuasa?, Bersatu dengan Allah, Mengubah Takdir, Tahajud Siang Hari Dhuhur Malam Hari, Dzikir Tauhid, Membonsai Islam, Menuai Bencana, Tak Ada Azab Kubur, Poligami Yuuuk!?, Ternyata Adam Dilahirkan, dan Indonesia Butuh Nuklir.
Man arafa nafsahu, arafa rabbahu. Barangsiapa mengenal dirinya, ia akan mengenal Tuhannya. Sudahkan kita mengenal diri kita sendiri? Mengenal jiwa dan ruh kita? Pokok pikiran-pokok pikiran berikut akan membantu dalam mengetahui lebih jauh serta memahami, apa sebenarnya jiwa dan ruh. Dimanakah keberadaan jiwa dan ruh? Apakah hubungan jiwa dengan mekanisme kerja otak?
Pengertian umum jiwa dan ruh
Jiwa adalah dzat di dalam diri kita yang memiliki kemampuan untuk memilih. Sedangkan ruh adalah dzat yang menyebabkan munculnya kehidupan pada benda-benda mati sekaligus menularkan sifat-sifat ketuhanan kepadanya. Dengan ditiupkannya ruh, maka sesuatu yang tadinya mati, tak bernyawa, menjadi ada atau hidup. Allah mengimbaskan sebagian dari sifat-sifatNya kepada manusia lewat ruh, sehingga disamping bersifat hidup, manusia juga memiliki kehendak, kasih sayang, keikhlasan, dan sifat-sifat lain yang membuat manusia berderajat lebih tinggi dibandingkan makhluk ciptaan Allah lainnya yang hanya terimbas sifat hidup saja.
Perbedaan jiwa dengan ruh
1. Berdasarkan subtansi
Dalam QS. A Nahl (16):78, QS. Yusuf:22, QS. Al Insaan (76):1, dan QS. Asy Syam (91):7-10 dijelaskan bahwa jiwa merupakan dzat yang labil kualitasnya. Bisa naik, turun, kotor, bersih, dan seterusnya. Perkembangan kualitas jiwa seseorang terjadi seiring dengan pengalaman hidup, ilmu, dan umurnnya. Sementara, ruh dalam QS. Al Hijr (15):29, QS. Tahrim (66):12, QS. As Sajdah (32):9 digambarkan sebagai dzat yang selalu baik, suci, dan berkualitas tinggi. Bahkan merupakan ‘turunan’ dari Dzat Ketuhanan. Tersurat dalam buku (hal: 22).
2. Berdasarkan fungsi
Jiwa adalah ‘sosok’ yang bertanggung jawab atas segala perbuatan kemanusiannya. Jiwa memiliki kebebasan untuk memilih kebaikan atau keburukan dalam hidupnya.
Pertanggungjawaban itu akan dipikul oleh jiwa ketika ia dikembalikan ke badannya pada hari kebangkitan kelak. Berbeda dengan jiwa, ruh merupakan anugerah Allah yang menularkan sebagian sifat-sifat Allah. Dengan ditiupkannya ruh, saat itulah manusia dapat bernafas.
Intinya, ruh berfungsi sebagai ‘sesuatu’ yang menjadikan manusia itu hidup dan jiwa merupakan ‘sosok’ penentu setiap pilihan dalam kehidupan. Perbedaan makna jiwa dengan ruh dapat kita lihat dalam kegiatan sehari-hari. Tatkala seseorang terlelap dalam tidur, hembusan nafas dan detak jantungnya masih terdengar karena yang ditahan oleh Allah adalah jiwanya, bukan ruhnya. [QS. Az Zumar (39):42]
3. Berdasarkan sifat
Jiwa berpotensi dapat merasakan kesedihan, kegembiraan, ketenangan, dll. Sedangkan ruh bersifat stabil. Ruh adalah kutub positif dari sifat kemanusiaan sebagai lawan dari sifat setan yang negatif.
Keberadaan jiwa dan ruh
Posisi Jiwa berpusat di otak, yaitu pada sektor-sektor tertentu di dalam otak. Lantas dimanakah posisi ruh? Sebagaiman kita ketahui bahwa sel merupakan unit terkecil kehidupan. Setiap sel mampu melaksanakan aktifitas kehidupan, seperti respirasi oleh mitokondria, sekresi oleh kompleks golgi, serta proses pencernaan oleh lisosom. Selanjutnya sel-sel itu bersatu membentuk jaringan-organ-sistem organ-organisme, yaitu manusia, alias kita. Secara tidak langsung kita telah menemukan jawaban bahwa ternyata ruh itu bersemayam di setiap sel tubuh. Subhanallah!
Dalam buku disimpulkan bahwa Allah menciptakan manusia dari unsur tanah dan kemudian meniupkan sebagian RuhNya kepada badan itu. Maka hiduplah ‘bahan organik tanah’ menjadi badan manusia. Akibat dari bersatunya badan dan ruh, sejak saat itu pula mulai aktiflah jiwa manusianya. Jadi jiwa dalah ‘akibat’. Jiwa muncul akibat interaksi antara ruh dengan badan. Jiwa dapat mengikuti petunjuk ruh lantas menuju pada kebaikan atau justru tertarik pada badan yang cenderung mengtuhankan hawa nafsu dan menggiring manusia pada keburuka
Jika kita mengumpamakan aktifitas tubuh manusia sama dengan aktifitas robot, maka ruh-manusia itu bagaikan suatu operating system robot. Sementara jiwa sama halnya dengan program aplikasinya. Dan pusat pengendalian program aplikasi tersebut berada di ‘otak’ robot yaitu CPU. Dari pengandaian tersebut, jelaslah bahwa jiwa itu bersemayam di otak. Sebagaimana suatu program aplikasi yang bersemayam dan dikendalikan oleh CPU sebagai otak komputer.
Berdasarkan pemahaman itu, kita tidak dapat mengelak lagi jika kekuatan otak merupakan penentu kekuatan jiwa. Seseorang yang mengalami gangguan pada sel-sel otaknya, tentu akan terguncang kesehatan jiwanya. Entah besar atau kecil skala kerusakan sel-sel otak itu berdampak pada besar atau kecilnya gangguan kesehatan jiwanya. Orang yang ‘bermasalah’ dengan jiwanya, yang lebih umum kita sebut dengan ‘gila’, dalam penanganan medisnya, tidak hanya melibatkan dokter psikis atau dokter jiwa, namun juga mendapatkan intervensi dokter syaraf. Secara tersirat kesimpulan kita terbukti, jika kekuatan jiwa erat kaitannya dengan kekuatan otak.
Seorang korban kecelakaan yang mengalami kerusakan pada syaraf-syaraf penciumannya, menyebabkan ia tidak mampu lagi membedakan bau benda-benda di sekelilingnya ataupun aroma masakan. Syaraf penciumannya tidak dapat mengolah dengan baik setiap implus bau atau aroma yang dikirim oleh indera penciuman, yaitu hidung. Coba bayangkan, bagaimana menderitanya orang tersebut! Bagaiman perasaanya?! Sangat tersiksa pastinya. Tidak menutup kemungkinan, jiwanya terguncang dalam persentase yang kecil atau bahkan besar. Jadi sekali lagi, kesehatan otak adalah kesehatan jiwa.
KELEBIHAN, KEKURANGAN, DAN KEBERMANFAATAN
Buku “Menyelam ke Samudera Jiwa dan Ruh” selain membantu kita dalam memahami akan makna jiwa dan ruh, juga memberikan beberapa manfaat pada kita antara lain: pertama, kita menjadi semakin tahu dan mengagumi betapa Maha Besar dan Maha Kuasa Allah S.W.T. atas apa yang diciptakanNya sebab dengan terbuka, penulis menuturkan kesempurnaan manusia sebagai ciptaaan Allah dibandingkan makhluk lainnya; kedua, kita dapat merenungi akan diri kita (manusia) serta memahami lebih jauh akan tempat atau keberadaan jiwa dan ruh dalam tubuh kita; ketiga, setelah mengetahui bahwa kita adalah makhluk yang sempurna, akan membangun rasa syukur pada Allah S.W.T. dengan demikian, jalan dekatNya sedang kita lalui, itulah makna tasawwuf. Penulis menyediakan jalan itu bagi pembacanya. Boleh dikatakan, buku ini berhasil sebagai buku tasawwuf.
Buku nonfiksi yang satu ini berbeda dengan buku fiksi lainnya sebab terdapat beberapa kelebihan atau keunggulan yang dimilikinya, diantaranya: pertama, pemaparan mengenai jiwa, ruh dan mekanisme kerja otak sangat detail dan dapat dipercaya karena didukung ayat-ayat Al-Qur’an serta beberapa buku referensi lainnya; kedua, penulis seakan mengajak pembaca berdiskusi tentang jiwa dan ruh secara ilmiah, lewat perkembangan sains, biomolekuler, dan tekhnologi mutakhir sehingga ada rasa tertarik untuk membaca buku secara utuh; ketiga, penulis menjelaskan hubungan antara jiwa, ruh dan otak secara bertahap, yaitu mendeskripsikan alur hubungan atau koherensi ketiganya dengan selangkah demi selangkah (step by step) sehingga mudah dimengerti; yang terakhir, penulis menganalogikan robot dan mekanisme kerjanya dalam mendeskripsikan manusia dan sistem kerja tubuh manusia sehingga mempermudah pembaca untuk mengerti dan memahami akan jiwa, ruh, dan otak.
Disamping kelebihan di atas, buku ini memiliki beberapa kelemahan atau kekurangan, antara lain: pertama, tidak semua judul buku yang dijadikan referensi tersurat dalam “Menyelam ke Samudera Jiwa dan Ruh”, hal ini membuat pembaca sulit mencari buku referensi tersebut karena tidak disertai sumbernya; kedua, ilustrasi gambar sedikit sehingga membuat pembaca cepat merasa jenuh dan penat dalam membaca.
Kini kita menjadi tahu bahwa jiwa dan ruh itu berbeda. Namun keduanya memiliki hubungan yang terikat satu dengan yang lain. Tidak akan ‘berfungsi’ dengan baik seorang manusia apabila jiwa dan ruhnya tidak saling berinteraksi dengan baik. Jiwa ada sebagai akibat bersatunya ruh dengan badan. Jikalau demikian, ada baiknya buku ini berjudul Menyelam ke Samudera Ruh dan Jiwa, sebab ruhlah yang menjadikan manusia hidup, dan selama manusia itu hidup, mereka dapat menentukan pilihan hidupnya karena ada peranan jiwa di dalam tubuh manusia.
Namun judul buku bukanlah masalah yang signifikan sehingga patut dibahas atau diperbincangkan. Yang terpenting adalah makna, isi, serta manfaat yang dapat kita peroleh dari buku. Dan buku karya Agus Mustofa ini mengajak kita untuk menyelami relung-relung jiwa kita yang paling dalam. InsyaAllah kita dapat bertemu dengan Sang Pencipta, di sana. Pendek kata, buku ini pantas dibaca secara utuh! Sebagai rasa syukur kita kepada pemberi ruh dan jiwa, Yang Maha Pencipta.
DOA SEBELUM MAKAN
Allaahumma baarik lanaa fii maa razaq tanaa wa qinaa 'adzaa bannaar
Artinya:
Yaa Allah... Berikanlah berkah dalam rezekimu ini dan lindungilah kami dari siksa api neraka.
Artinya:
Yaa Allah... Berikanlah berkah dalam rezekimu ini dan lindungilah kami dari siksa api neraka.
DOA SETELAH WUDHU
Assyhadu anlaa ilaha illallaahu wahdahu laa syarikalahu, wa assyhadu anna muhammadan 'abduhu warasuuluhu
‘Saya bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah Yang Maha Esa dan tiada sekutu bagiNya. Aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusanNya.’ (HR. Muslim 1/209)
Allahummaj'alnii minattawwabiina waj'alnii minal mutathahiriin
‘Ya Allah, jadikanlah aku termasuk orang-orang yang bertobat dan jadikanlah aku termasuk orang-orang yang bersuci’ (HR. At-Tirmidzi 1/78)
Subhanakallahumma wabihamdika assyhadu anlaa ilaha illa anta astaghfiruka wa atuubu ilaika
‘Maha Suci Engkau ya Allah, aku memuji kepadaMu. Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Engkau, aku minta ampun dan bertobat kepadaMu’ (HR. An-Nasa’i)
Merubah Budaya Buruk Menjadi Budaya Produktif, Dari Mana Memulainya …?
| Oleh : Muhaimin Iqbal |
Di Jawa Barat ada satu kabupaten yang memiliki tingkat perceraian sangat tinggi dibandingkan dengan rata-rata kabupaten/kota lain di Indonesia. Saya tidak menemukan penjelasannya mengapa ini terjadi di kabupaten tersebut, tetapi dalam skala kecil di suatu perusahaan pernah saya menjumpai hal yang serupa. Belasan tahun lalu saya bekerja di suatu perusahaan yang luar biasa professional dibidangnya dan memiliki sekumpulan orang-orang yang berdedikasi sangat baik pada pekerjaannya. Namun di belakang kesuksesan perusahaan tersebut ternyata begitu banyak keluarga-keluarga yang hancur karena kasus perceraian. Yang menarik untuk diketahui adalah prosesnya, bagaimana hal tersebut terjadi !. Penyebab begitu banyaknya perceraian di perusahaan tersebut ternyata tidak lain adalah karena faktor pertemanan. Karyawati-karyawati baik-baik yang sedang mengalami masalah biasa saja dengan suaminya – bisa berujung perceraian gara-gara curhat sama temannya yang telah terlebih dahulu bercerai. Begitu seterusnya sehingga perceraian itu mewabah menjadi hal yang seolah biasa di kantor tersebut. Bila hal-hal buruk seperti perceraian tersebut begitu mudahnya menular, demikian pula dengan hal-hal yang baik. Saya ada teman yang amat sangat soleh, lahir dari keluarga yang luar biasa kesolehan-nya kemudian beristrikan wanita solehah dari keluarga yang juga sangat soleh. Ternyata temen ini tidak hanya berhasil membimbing keluarganya sendiri untuk menjadi kumpulan orang-orang soleh dan solehah didalamnya, tetapi bahkan mereka bisa mempengaruhi orang-orang sekelilingnya untuk mengikuti dan meniru apa yang mereka lakukan. Dua fenomena tersebut diatas bisa menjadi contoh kontemporer atas anjuran Rasulullah Shallallahu ‘ Alaihi Wa Sallam dalam dua hadits berikut. Dari Abu Musa al-Asy’ari, Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam bersabda, “Sesungguhnya, perumpamaan teman baik dengan teman buruk, seperti penjual minyak wangi dan pandai besi; adapun penjual minyak, maka kamu kemungkinan dia memberimu hadiah atau engkau membeli darinya atau mendapatkan aromanya; dan adapun pandai besi, maka boleh jadi ia akan membakar pakaianmu atau engkau menemukan bau anyir.” (HR. Bukhari No.2101 dan Muslim No.6653). Dari Abu Hurairah Radhiallahu’anhu, bahwasanya Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam bersabda , “Seseorang tergantung agama temannya, maka hendaklah seorang di antara kalian melihat teman bergaulnya”. Lantas apa kaitannya antara kasus-kasus perceraian dan contoh keluarga soleh tersebut diatas dengan upaya kita untuk menebar kebaikan ?. Kaitannya ada pada kesamaan proses menularnya hal-hal baik dan hal-hal buruk. Bila Anda sangat ingin terjun untuk menjadi entrepreneur tetapi 3 F (Friends, Families and Fools) disekitar Anda tidak ada yang memberikan dorongan misalnya, maka besar kemungkinannya Anda tidak jadi berwiraswasta. Sebaliknya juga bisa terjadi, niat Anda mungkin hanya biasa-biasa saja – tetapi dorongan dari 3 F di sekitar Anda yang luar biasa – maka bisa jadi Andapun akan sukses menekuni ke-wirausahaan Anda. Jadi selain produk dari drive yang ada didalam diri Anda, entrepreneurship sebagai salah satu contoh kebaikan juga merupakan produk dari lingkungan dimana Anda berada. Disinilah sangat relevannya dua hadits tentang memilih teman tersebut diatas. Anjuran untuk memilih teman-teman yang baik tersebut bahkan menjadi amat sangat penting di era teknologi ini, dimana dengan mudah Anda bisa memiliki ribuan teman melalui facebook atau twitter misalnya. Karena banyak hal-hal buruk yang mudah sekali menyebar melalui web, facebook, twitter dlsb., maka melalui media yang sama kita harus bisa mengimbanginya atau bahkan mengunggulinya dengan hal-hal yang baik. Di antara hal-hal baik yang ingin terus kami tularkan agar menjadi wabah dari situs ini adalah semangat untuk ber-wirausaha secara umum atau yang lebih sederhana akhir-akhir ini adalah semangat untuk berdagang. Saya bahkan membayangkan suatu saat nanti – entah kapan, entah di generasi kita atau sesudah kita, hal-hal buruk yang terjadi di negeri ini seperti merajalelanya korupsi, mafia hukum, perampokan, pencurian dan kejahatan lainnya bisa dilawan dengan menyebar luasnya budaya berdagang yang ada di masyarakat. Ada satu keberhasilan kecil (small win) yang membuat saya yakin keberhasilan yang besar (big win) di negeri ini bisa juga terjadi. Di lingkungan kami di Jonggol Farm setahun terakhir ini tidak berhenti kami membangun kandang, pabrik susu, pabrik makanan ternak, masjid dlsb., sehingga banyak sekali material yang kami butuhkan dari masyarakat sekitar. Di antara supplier material tersebut, salah satunya adalah mantan preman –jagoannya daerah Jonggol. Pada suatu hari si mantan preman ini di datangani oleh teman-teman lamanya untuk diajak ber-operasi di daerah lain, si mantan preman ini menolak karena saat itu dia sudah ada kerjaan berdagang men-supply kebutuhan beberapa material di project kami. Beruntunglah si mantan preman ini, karena seluruh teman-temannya yang mengajak operasi tersebut ternyata tertangkap semuanya oleh aparat. Si mantan preman kini semakin hari semakin baik karena merasa ‘terselamatkan’ dengan kehidupan barunya. Kemudian dari berita-berita korupsi yang dilakukan oleh penegak hukum negeri ini, rata-rata alasannya klasik yaitu penghasilan mereka tidak cukup – lantas mudah sekali mereka terpengaruh untuk mencari pendapatan tambahannya dengan korupsi – karena inilah yang sudah mewabah di lingkungannya. Bahwasanya penghasilan mereka memang tidak cukup, bisa jadi ini benar karena 80 % penduduk negeri ini memang hidup jauh dibawah garis kemiskinan berdasarkan standar nishab zakat !. Tetapi ketidak cukupan tersebut tidak juga bisa menjadi pembenaran bahwa orang bisa korupsi atau melakukan kejahatan lainnya. Lantas apa solusi yang paling masuk akal agar orang tidak mencukupi kekurangannya melalui kejahatan korupsi dan sejenisnya ?. Menaikkan gaji mereka selama ini juga tidak menjadi solusi yang efektif karena bebarengan dengan kenaikan gaji pegawai ini – inflasi juga mengikutinya atau bahkan mendahuluinya – sehingga tetap saja tidak cukup !. Selain perbaikan mental yang menyeluruh, lagi-lagi wabah budaya berdagang tersebut diataslah yang menurut saya bisa menjadi salah satu solusinya. Bila istri-istri penegak hukum bisa leluasa berdagang bersama masyarakat luas di Bazaar- Bazaar Madinah atau tempat lain yang memungkinkan mereka berdagang dengan mudah tanpa entry barrier modal dlsb., maka dari barakah rizki yang halal ini insyaAllah bisa mencegah suaminya untuk tidak lagi melakukan tindak pidana korupsi dan sejenisnya. Penyakit sosial yang terlanjur mewabah di masyarakat, harus ada upaya untuk melawannya. Dengan apa kita bisa melawannya ?, Dengan menyebarkan virus-virus kebaikan melalaui kepandaian berusaha, kepandaian berdagang dlsb. Semoga hal-hal kecil yang kita lakukan ini kelak bisa menjadi bagian dari upaya masyarakat lainnya yang melakukan hal-hal kebaikan yang serupa. Bila Allah berkehendak –siapa tahu upaya-upaya tersebut nantinya bisa mencapai tipping point – seperti titik didih air yang merubah cairan menjadi uap - yang merubah segala bentuk keburukan menjadi kebaikan !. Amin. |
Kamis, 10 Februari 2011
The Intelligent Entrepreneur : Cara Anak Sekolahan Membangun Usaha...
| Oleh : Muhaimin Iqbal |
Tulisan kali ini saya sarikan dari buku yang berjudul The Intelligent Entrepreneur karya Bill Murphy Jr. ( Henry Hold & Co LLC, New York 2010). Bill Murphy yang juga wartawan Washington Post ini memotret bagaimana lulusan-lulusan sekolah business terbaik di dunia – Harvard Business School (HBS) – membangun usahanya dari nol. Untuk karyanya tersebut, Bill mewancarai sejumlah professor di HBS dan juga tiga contoh lulusannya yang menonjol baik ketika di kampus maupun ketika terjun sebagai entrepreneur. Tiga lulusan HBS yang dijadikan case study di buku ini adalah Marc Cenedella pendiri Theladders.com - yaitu recruitment yang fokus pada orang-orang yang bergaji tinggi (US$ 100,000 +/tahun), Christopher Michel pendiri Military.com – yang menjalin membership dari 30 jutaan warga Amerika yang terkait dengan kegiatan militer, dan Marla Beck yang bersama suaminya Berry Back mendirikan BlueMercury – suatu jaringan spa dan retail produk-produk kecantikan kelas atas di seluruh Amerika. Intelligent EntrepreneurDari seluruh wawancara dengan para professor HBS dan para lulusannya yang berhasil mengimplementasinya apa-apa yang dipelajarinya selama di kampus tersebut, Bill Murphy menyimpulkan benang merahnya dalam bentuk 10 rules yang membuat mereka sukses. 1) Make The Commitment Rata-rata lulusan sekolah business terbaik seperti HBS tersebut diatas langsung mendapatkan gaji yang sangat baik ketika mereka memasuki dunia kerja. Maka sebagian menikmati dunia kerjanya dan tetap menjadi pegawai sampai pensiun dengan penghasilan yang terus membesar. Sebagian lain yang mempunyai commitment untuk membangun usaha dari awal, lengkap dengan pasang surutnya usaha dari waktu kewaktu inilah yang akhirnya membedakan mereka dengan rekan-rekannya se-kampus. 2) Find a Problem, Then Solve It Usaha tidak dimulai dari solusi, tetapi dari problem - kebanyakan orang keliru disini. Bila Anda seorang web developer handal misalnya – Anda mengira bahwa dengan mudah Anda bisa membuat bisnis berbasis web. Ada yang memang bisa, tetapi sebagian terbesarnya tidak bisa. Ketiga lulusan HBS tersebut tidak satu-pun yang mendalami IT, namun mereka pandai meng-identifikasi problem kemudian memberinya solusi – yang antara lain berbasis IT. 3) Think Big, Think New, Think Again Begitu banyak bisnis yang dilahirkan oleh keterbatasan wawasan para pendirinya. Keunggulan para lulusan sekolah bisnis seperti HBS ini adalah wawasan yang luas yang mereka peroleh dari para professor mereka ketika masih di kampus, yang kemudian diteruskan dengan budaya membaca, me-riset, mengkaji, menganalisa dlsb. dari berbagai perkembangan dunia bisnis terkini. Terus mengasah pikiran dengan hal-hal yang baru amat sangat diperlukan di dunia bisnis di era informasi seperi sekarang ini. 4) You Can’t Do It Alone Sepandai-pandai Anda, tidak mungkin Anda bisa membangun usaha besar tanpa melibatkan orang lain. Maka recruitment team inti yang memang bener-bener competent di bidangnya – juga menjadi salah satu kunci keberhasilan usaha. Untungnya para lulusan dari sekolah bisnis seperti HBS adalah jaringan alumninya yang sangat luas di berbagai perusahaan top dunia. Ini sangat membantu para lulusannya untuk membentuk team inti yang bener-bener berkelas. 5) You Must Do It Alone Meskipun banyak sekali pekerjaan yang harus ditangani secara team, ada pula yang harus Anda dapat lakukan sendiri terutama ketika usaha baru mulai. Maka tidak perduli Anda lulusan terbaik dari sekolah bisnis terbaik sekalipun, ketika mulai usaha – Anda harus benar-benar mau terjun dan mendalami bidang usaha yang Anda pilih. Passion Anda pribadi dibidang usaha yang Anda pilih tersebut-lah yang nantinya sangat dominan berperan dalam mengarahkan kapal usaha Anda – kemana kapal hendak berlayar. 6) Manage Risk Sikap dasar manusia sebenarnya tidak mau menanggung risiko, namun bidang usaha apapun yang Anda tempuh – pasti ada risikonya pada tingkatannya sendiri-sendiri. Menjauhi risiko sama sekali berarti Anda tidak akan melangkah kemana-mana, jadi yang diperlukan adalah kemampuan mengelola risiko. Kemampuan memilah dan memilih risiko, mana yang memang harus dihindari, mana yang bisa diperhitungkan dan ditanggung dlsb, akan ikut berperan penting sejauh mana Anda dapat mengembangkan usaha Anda. 7) Learn To Lead Lulusan dari sekolah bisnis terbaik seperti HBS sekalipun tidak otomatis mampu memimpin team-nya, maka setiap (calon) pengusaha harus mau dan mampu belajar memimpin teamnya di lapangan. 8) Learn To Sell Ironinya menurut buku ini adalah di sekolah bisnis seperti HBS ternyata tidak ada secara khusus materi sales dalam perkuliahannya. Materi sales hanya ‘terbawa’ dalam berbagai mata kuliah lainnya seperti entrepreneurship dan marketing. Padahal sales adalah ujung tombak di setiap jenis usaha apapun yang akan Anda tekuni. Maka bidang apapun yang Anda pilih dan sebesar apapun usaha yang hendak Anda bangun, Anda harus mampu menguasai teknik-teknik sales yang bisa jadi sangat spesifik dengan bidang usaha Anda. 9) Persist Persevere, Prevail Untuk rules yang kesembilan ini, kita punya satu istilah yang lebih pas yaitu istiqomah. Perjalanan usaha tidak selamanya mulus, maka dari waktu ke waktu Anda sebagai pendiri usaha harus mampu bertahan dan mengatasi segala persoalan yang muncul. Usaha tidak akan pernah bisa besar dan berumur panjang bila pendirinya sendiri tidak mampu bertahan dan mengatasi segala macam persoalan yang terbawa oleh perjalanan usaha. 10) Play The Game For Life Usaha tidak hanya untuk mencari uang, ketika usaha Anda telah mencapai sukses seperti yang dicapai tiga lulusan HBS tersebut diatas – ternyata uang bukan lagi menjadi yang utama. Kemerdekaan (freedom) untuk berbuat sesuatu dan rasa aman (security) ternyata menjadi yang lebih utama. Bagi kita umat Islam, pencapaian sukses usaha ini juga menjadi penting sebagaimana hadits dari Amru bin Ash : "Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam mengutus seseorang kepadaku agar mengatakan, "Bawalah pakaian dan senjatamu, kemudian temuilah aku." Maka aku pun datang menemui beliau, sementara beliau sedang berwudlu. Beliau kemudian memandangiku dengan serius dan mengangguk-anggukkan (kepalanya). Beliau lalu bersabda: "Aku ingin mengutusmu berperang bersama sepasukan prajurit. Semoga Allah menyelamatkanmu, memberikan ghanimah dan dan aku berharap engkau mendapat harta yang baik." Saya berkata, "Wahai Rasulullah, saya tidaklah memeluk Islam lantaran ingin mendapatkan harta, akan tetapi saya memeluk Islam karena kecintaanku terhadap Islam dan berharap bisa bersama Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam." Maka beliau bersabda: "Wahai Amru, sebaik-baik harta adalah harta yang dimiliki oleh hamba yang Shalih." (HR. Ahmad). Bila kita bisa sukses berusaha, maka insyaAllah kitapun bisa berbuat sesuatu yang nyata untuk ikut mencegah kelaparan, mengatasi kemiskinan dan membangun kemakmuran untuk bangsa dan umat ini. Maka tidak ada salahnya kita belajar hal-hal yang baik dan systematis dari yang telah membuktikannya. “Kalimat hikmah (perkataan yang baik/bijaksana) adalah senjatanya orang mukmin, dimanapun ia mendapatkannya maka dia lebih berhak untuk mengambilnya” (HR. Tirmidzi/Ibnu Majjah) |
Entrepreneurship Roadmap : Dari Death Valley Menuju Local Max dan Kemudian Big Max...
| Oleh : Muhaimin Iqbal |
| Meskipun sudah hampir seperempat abad saya mengemudi di Jakarta, saya tidak pernah hafal jalan kecuali jalan-jalan utama yang biasa saya lalui. Karena tidak paham jalan ini, saya menjadi tidak PD (Percaya Diri) untuk mengemudi ke daerah-daerah yang saya tidak familiar. Namun alhamdulillah, kini dengan GPS yang semakin canggih dan harganya semakin murah – hanya sekitar 1 Dinar – saya sudah bisa mengemudi dengan PD di manapun di Jakarta. Selain menampilkan peta jalan, GPS kini dapat di setel untuk memberikan petunjuk dalam bentuk suara, dimana harus belok, dimana masuk dan keluar tol dlsb. dan bahkan akan mengingatkan kita bila salah ambil jalan !. Merintis usaha baru adalah mirip anak udik yang nyetir di metropolitan tersebut, tidak PD, tidak tahu jalan, sering salah jalan, kena tilang, harus sering bertanya agar tidak tersesat dan berbagai masalah lainnya. Maka bila kita bisa membuat peta jalan atau roadmap yang jelas atas perjalanan usaha yang akan kita tempuh, insyaAllah kita akan lebih PD menempuh perjalanan di belantara metropolitan usaha ini. Secara sederhana, roadmap usaha dapat digambarkan seperti dalam ilustrasi dibawah. Tiga landmarks utamanya adalah death valley, local max dan big max. Apa dan bagaimana death valley sudah beberapa kali saya bahas melalui tulisan-tulisan sebelumnya. Dalam tulisan ini saya akan fokus pada local max dan big max. Entrepreneurship RoadmapKetika usaha Anda telah berhasil melalui waktu kritisnya di awal-awal usaha, strategi usaha Anda akan mulai membuahkan hasil yang ditunjukkan oleh klien-klien yang mulai membeli produk Anda, kontrak-kontrak kerja yang akan mengokohkan penjualan Anda dst. (titik A di grafik). Tidak lama setelah itu usaha Anda akan mencapai puncak sementara-nya yang kita sebut local max. Local max ini adalah ketika resources awal yang Anda miliki sudah mentog, ini bisa terkait dengan modal, kapasitas pabrik, luasan lahan, kemampuan manajerial dan berbagai resources lainnya. Karena income mentog sedangkan biaya seperti gaji karyawan, bahan baku, dlsb. terus tumbuh karena inflasi, juga pesaing-pesaing dari berbagi penjuru mengepung Anda dan berbagai masalah ikutan lainnya –net income Anda akan terus tergerus – maka sampailah (untuk sementara) senjakala usaha Anda ( titik B). Bila tidak ada terobosan yang luar biasa, maka kinerja usaha Anda akan terus merosot menuju titik C. Tidak seburuk diawal usaha ketika Anda masih di death valley memang, tetapi juga pada titik ini kejayaan usaha Anda telah lewat. Dalam kondisi seperti ini kalimat yang sering muncul di perusahaan Anda adalah kalimat “....dahulu kami pernah....” dst. Tidak terhitung banyaknya perusahaan yang saya temui dalam kondisi “....dahulu kami pernah....” ini. Tetapi ini juga bukan akhir segalanya, saat itulah entrepreneurship yang sesungguhnya dari seorang pengusaha akan teruji. Bila dia berhasil melalui titik C dengan terobosan yang tidak dimiliki industri atau pesaing-pesaing di jamannya, maka sangat bisa jadi dia akan melaju ke pencapaian berikutnya yang ditandai dengan adanya terobosan-terobosan dalam hal produk, pasar, distribution channel, positioning, new business model, manjemen dlsb. (titik d dalam grafik). Bila titik d ini bisa dilalui, maka sangat bisa jadi dalam waktu yang tidak terlalu lama perusahaan akan bisa mencapai puncak keberhasilan tertingginya yang disebut big max. Dari sejarah kinerja perusahaan modern yang sering sekali menjadi inspirasi untuk terobosan pada jamannya adalah apa yang dilakukan oleh Ray Kroc yang membesarkan jaringan restaurant cepat saji McDonald. Ray Kroc sebenarnya bukanlah pendiri dari McDonald; pendiri McDonald adalah McDonald bersaudara. Namun meskipun McDonald bersaudara berhasil membuat lini perakitan untuk burger dan sandwich yang sangat maju, kinerjanya tidak terlalu menonjol diantara puluhan ribu restaurant yang sudah ada waktu itu. Ray Kroc-lah yang mulai mengembangkan jaringan wara labanya dan akhirnya membeli McDonald corporation-nya sendiri hanya tujuh tahun sejak pertama kali dia membuka waralabanya yang pertama. Intinya adalah secemerlang apapun ide usaha Anda dan secanggih apapun teamnya, akan lebih mudah bila Anda memiliki pula roadmap yang jelas – sampai sejauh mana usaha yang Anda rintis tersebut nantinya akan berjalan. Bila untuk menempuh perjalanan panjang usaha tersebut resources awal tidak lagi memadai untuk menyelesaikan misinya – maka Andapun harus legowo bila ada team atau resources lain yang bisa menyempurnakannya. Sebagian besar perusahaan “...dahulu kami pernah...” yang berhenti di titik c dan tidak pernah sampai ke titik d apalagi mencapai big max-nya , penyebabnya adalah apa yang dalam bahasa sunda disebut “ kusorangan teu becus, kubatur ulah...”, diri sendiri tidak bisa – ditangani orang lain tidak rela !. Seperti kebutuhan akan GPS tersebut diatas, ketika Anda duduk di driving seat kemudi usaha – Anda akan lebih mudah untuk PD bila setiap saat Anda tahu persis sedang berada dimana dan hendak kemana. Selamat menikmati perjalanan usaha Anda ...!. |
Langganan:
Postingan (Atom)
Intelligent Entrepreneur
Entrepreneurship Roadmap